Peluang Khilafah di Dunia Islam

Pendahuluan

Blessing in disguise. Gelombang revolusi melanda dunia Arab, beranjak dari Tunisia menyebar ke Mesir, Libya, Yaman, Bahrain, Oman, Suriah, Yordania, Arab Saudi hingga seluruh negeri Islam lainnya. Kaum Muslim keluar secara massal dalam jumlah ribuan bahkan jutaan di Tunisia, Mesir, Yaman, dan Libya, menuntut perubahan penguasa dan rezim mereka yang telah mendatangkan kerusakan dan kehancuran bagi kaum Muslim selama beberapa dekade. Keluarnya kaum Muslim itu merupakan penegasan bahwa kekuasaan adalah milik umat; merekalah yang memilih penguasa.

Warga Libya memberikan contoh paling berani dalam menentang penguasa diktator. Mereka lebih mengutamakan kematian daripada tetap berada di bawah rezim rusak lagi sombong. Itu merupakan ketentuan pokok: tidak takut, tidak pengecut, dan berpegang pada apa yang diperintahkan Allah SWT.

Baca lebih lanjut

Membebaskan Minoritas Muslim Yang Tertindas

Umat Islam di dunia saat ini jumlahnya tidak kurang dari 1,6 miliar jiwa. Namun demikian, dengan jumlah yang banyak tersebut tidaklah berarti umat Islam senantiasa berposisi sebagai mayoritas penduduk sebagaimana di Indonesia (87%) dan negeri-negeri Timur Tengah. Adakalanya umat Islam adalah minoritas dalam sebuah negara seperti yang terjadi di negara-negara Eropa (5%), Amerika (1%), sebagian Afrika dan sebagian Asia seperti di India (13%), Cina (4%), Myanmar (3%), Thailand (4%), Filipina (4%) dan lainnya (Statistik Penduduk Dunia). Dalam situasi seperti inilah sering umat Islam akhirnya menjadi korban penindasan penduduk mayoritas karena berbagai alasan.

Baca lebih lanjut

Tarik-ulur Intervensi AS Di Suriah

Semestinya intervensi militer Amerika Serikat (AS) di Suriah tinggal menunggu waktu. Namun, alotnya persetujuan baik dari Senat dan Kongres di dalam negeri maupun persetujuan dari sekutu-sekutunya untuk mendukung serangan, menjadikan rencana serangan ini masih menunggu waktu dan momen yang tepat.

Baca lebih lanjut

Demokrasi: Sistem Gagal

Bentuk pemerintahan demokrasi atau republik atau kerakyatan menjadi trend dunia pasca sekularisme politik di Eropa selepas Perjanjian Westphalia 1648. Kekuasaan politik benar-benar dilepaskan dari kekuasaan agama agar dapat benar-benar berjalan sesuai dengan idealitas rasionalitas manusia. Perjanjian Westphalia dianggap sebagai titik lahirnya negara-negara nasional yang modern. Melalui Perjanjian Westphalia hubungan negara dilepaskan dari hubungan kegerejaan (keagamaan). Perjanjian Westphalia meletakkan dasar bagi susunan masyarakat Internasional yang baru, baik mengenai bentuknya yaitu didasarkan atas negara-negara nasional (tidak lagi didasarkan atas kerajaan-kerajaan) maupun mengenai dan hakikat pemerintahannya yakni pemisahan kekuasaan negara dan pemerintahan dari pengaruh gereja.

Baca lebih lanjut

Budi Mulyana, Pengamat Hubungan Internasional: Amerika Tak Beretika!

Pemerintah Indonesia melayangkan nota protes ke Kedubes Amerika Serikat setelah koran terkemuka di AustraliaSydney Morning Herald, Selasa (29/10), menyebut Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, sebagai salah satu dari 90 pos yang memiliki fasilitas penyadapan intelijen AS di seluruh dunia. Lantas apa dampak nota protes tersebut bagi hubugan kedua negara?Temukan jawabannya dalam perbincangan wartawan Media Umat Joko Prasetyo dengan Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana. Berikut petikannya.

Baca lebih lanjut

Iran-AS: ‘Kemesraan di Balik Layar’

Timur Tengah pasca runtuhnya Khilafah Turki Utsmani awalnya menjadi ‘tempat bermain’ Inggris dan Prancis. Namun, keberhasilan AS memenangkan perang dalam Perang Dunia II memungkinkan bagi dirinya mengambil peranan di kawasan ini, bahkan melakukan hegemoni dengan kebijakan “Twin Pillars”-nya. AS menjadikan Iran dan Arab Saudi sebagai ‘negara satelit’ untuk memuluskan berbagai kepentingannya di Dunia Arab.

Baca lebih lanjut

Menghentikan Hegemoni Amerika Serikat

Kekesalan masyarakat dunia sepertinya semakin memuncak. Keberpihakan Amerika Serikat (AS) secara terang-terangan terhadap aksi brutal Israel di Gaza semakin membuka mata dunia, AS memang telah gelap mata untuk mendukung Israel dengan membabi buta. Obama, sang presiden baru yang awalnya memberikan harapan besar, ternyata menunjukkan belangnya. Ia adalah pendukung berat Israel. Hal ini memang tidak terlepas dari kenyataan, bahwa setiap presiden AS, siapa pun, selalu menjadi pembela Israel. Inilah yang menunjukkan kejumawaan Amerika. Pasca keruntuhan Uni Sovyet, Amerika seperti tidak ada tanding. Peta politik dunia bergeser ke unipolaritas. Kedigdayaan Amerika jelas bukan untuk kemuliaan umat manusia, namun demi memenuhi keserakahan nafsu imperialismenya. Pertanyaannya, sampai kapan Amerika berjaya? Bisakah Amerika dihancurkan? Pilar kekuatan Amerika berasal dari ideologi yang diembannya, yakni ideologi Kapitalisme. Perwujudan ideologi tampak dalam kepentingan nasional Amerika yang diimplementasikan dalam pilar politik, ekonomi dan militer—walaupun aspek sosial-budaya juga tidak bisa diabaikan.

Baca lebih lanjut