Penjajahan Militer Barat atas Dunia Islam

Harry S, Truman, pada waktu itu seorang senator Amerika, ketika berlangsung invasi Nazi atas Rusia berkata, “Kita lihat kalau Jerman akan menang kita harus membantu Rusia dan kalau Rusia yang akan menang kita harus membantu Jerman, dan sementara itu biarkan mereka saling membunuh sebanyak mungkin.

Negara-negara Barat di bawah pimpinan Inggris pada tahun 1924 berhasil meruntuhkan kekhilafahan Islam yang berpusat di Istambul, Turki. Sejak itu, mereka memiliki dua agenda besar. Pertama, menjaga dominasi mereka atas negeri-negeri muslim. Kedua, mencegah Islam dan umatnya kembali menjadi negara adikuasa yang akan melenyapkan kekufuran dan kezaliman mereka. Setelah meletus Perang Dunia I dan II, kepemimpinan internasional bergeser dari Inggris ke Amerika. Sekalipun demikian, kedua agenda besar tadi tetap berlanjut.

Untuk dapat mencapai tujuannya tersebut, negara-negara kafir Barat berupaya melancarkan berbagai jenis serangan terhadap umat Islam. Serangan-serangan tersebut adalah:

Pertama, serangan pemikiran. Banyak sekali pemikiran-pemikiran kafir Barat yang dicekokkan ke dalam tubuh kaum muslim seperti HAM, demokrasi, pluralisme, dialog antaragama, dan sebagainya. Dengan serangan pemikiran seperti ini diharapkan umat Islam memiliki cara berpikir persis seperti mereka. Akibatnya, tidak dapat lagi dibedakan antara muslim dengan kafir, dan umat terus membebek kepada negara-negara Barat pimpinan AS.

Kedua, serangan untuk memperebutkan rakyat. Negara-negara Barat berupaya terus untuk memisahkan Islam dari umatnya, dan umat Islam dari Islam sebagai keyakinannya. Umat Islam terus digiring untuk berada di pihak mereka. Caranya adalah dengan mempropagandakan bahwa peradaban Barat itu peradaban yang luhur, maju, hebat, modern, serba luar biasa, dan serba segala-galanya. Sementara itu, Islam digambarkan sebagai kerendahan, tradisional, kemunduran, kuno, dan hidup dalam Islam laksana hidup di zaman batu.

Ketiga, serangan menipu masyarakat lewat penguasa. Melalui berbagai cara, AS dan negara kafir menjadikan penguasa negeri-negeri muslim sebagai kaki tangannya. Utang luar negeri, penanaman modal asing, organisasi internasional (PBB, WTO, dsb) merupakan sebagian teknik untuk menjeratnya. Diharapkan dengan tunduknya rakyat kepada penguasanya, sementara penguasa tunduk kepada Barat, maka berarti pula rakyat muslim ditundukkan oleh AS dan negara kafir sekutunya.

Keempat, serangan fisik/bersenjata. Ketiga jenis serangan tadi dipercaya sulit mencapai keberhasilan. Umat Islam tidak lagi serta merta menerima apa pun pemikiran yang berasal dari Barat, umat juga tidak pro-Amerika, serta penguasa semakin dikritisi oleh umat Islam. Akhirnya, AS memandang bahwa dengan jenis serangan terakhir, yaitu serangan fisik/senjata, tujuan mereka dapat dicapai.

Sejarah Perang Barat-Islam Masa Lalu

Persinggungan antara Islam dengan Barat pertama kali terjadi pada masa Rasulullah saw. Rasulullah saw mengutus … dalam perang Mu’tah untuk menggedor kekuatan Romawi adikuasa Barat masa lalu.

Pada masa sahabat saw, ….

Perang Salib

Pada penghujung abad 5 H /11 M, terjadilah peristiwa besar dan kolosal, tetapi merupakan momen yang sangat menyedihkan bagi kaum Muslimin. Peristiwa itu adalah Perang Salib. Peperangan yang berlangsung berlarut-larut hingga memakan waktu lebih kurang 200 tahun, dengan beberapa gelombang serangannya.

Dengan semboyan “Begitulah kehendak Tuhan”, kaum Kristen Eropa menyerbu wilayah Timur, negeri-negeri tempat kaum Muslim berada. Tujuannya untuk merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslim, dan mendirikan kerajaan (kekuasaan) Kristiani di wilayah Asia—Afrika.

Mereka berhasil menduduki beberapa negeri-negeri Islam, seperti Baitul Maqdis, Tripoli-Syam, Odessa, dan kawasan Antiokia. Negeri-negeri itu mereka jadikan kerajaan-kerajaan kecil yang menginduk ke Eropa (ke Kepausan). Tetapi negeri-negeri ini tidak lama bertahan di tangan kaum Kristen. Kerajaan (Ar-Raha) Odessa terlepas dari tangan mereka setelah 52 tahun dikuasai kaum Kristen. 78 tahun kemudian Baitul Maqdis menyusul terlepas. Kedudukan kerajaan-kerajaan kecil ini terus mengalami kesulitan setelah Shalahuddin Al-Ayubi bertekad membebaskan seluruh negeri-negeri Islam yang telah dikuasai oleh kaum Kristen untuk mengembalikan kedaulatan dan kekuasaan Islam di sana. Sampai akhirnya, Shalahuddin berhasil memasuki Baitul Maqdis dan membebaskannya dari tentara Salib. Shalahuddin memasuki Kota Suci ini pada hari Jumat, tanggal 27 Rajab tahun 583 Hijriah, dengan mengumandangkan takbir. Ia bersama tentara Islam masuk ke dalam Masjid al-Aqsha dan Masjid ash-Shakarah lalu membersihkannya dengan air bunga. Untuk kali pertama, seketika itu kumandang azan kembali bergema dari menara kedua masjid tersebut.

Episode Perang Salib terus berlangsung. Sejarah telah mencatat bahwa perang ini sangat panjang dan melelahkan kedua pihak. Perang tersebut berlangsung sampai lebih kurang 200 tahun, dimulai dari Perang Salib I sampai VII. Sejak Perang Salib IV sampai VII, tentara Salib sama sekali tidak mendapatkan apa pun. Mereka lebih banyak menelan kekalahan daripada meraih kemenangan. Selain itu, kerugian personal dan material dari kedua pihak sangat banyak. Itulah peperangan terpanjang yang pernah ditayangkan di atas panggung sejarah kemanusiaan.

Kemunduran Khilafah Turki Utsmani

Penaklukan Konstantinopel pada abad ke-15, dianggap oleh Eropa-Kristen sebagai awal dari masalah ketimuran (al-mas’alah as-syarqiyyah), terlebih hingga abad ke-16 M, saat terjadinya penaklukan sebagian besar wilayah Balkan, seperti Bosnia dan Albania, serta Yunani dan kepulauan Ionia. Masalah ketimuran inilah yang mendorong Paus Paulus V (1566-1572 M) menyatukan negeri-negeri Eropa yang sebelumnya terlibat dalam konflik antaragama, antara sesama Kristen, yaitu Protestan dan Katolik. Konflik ini baru bisa diakhiri setelah diselenggarakanya Konferensi Westavalia tahun 1667 M. Pada saat yang sama, penaklukan Khilafah Utsmaniah pada tahun-tahun tersebut telah terhenti. Memang, setelah kekalahan Khilafah Utsmaniah atas Eropa (Paus Paulus V, Spanyol, Hungaria dan Perancis) dalam Perang Lepanto tahun 1571 M, Khilafah nyaris hanya mempertahankan wilayahnya. Pada tahun 1683 Daulah Utsmaniyah berperang hebat dengan Polandia di Wina. Sepuluh ribu prajurit Utsmaniyah gugur dan sebagian melarikan diri ke Hongaria. Pada tahun 1699, dibuat Perjanjian Carlowitz yang mengakhiri perang antara dua negara tersebut. Dengan perjanjian tersebut, Turki dipaksa untuk menyerahkan seluruh wilayah Hongaria, Slavonia, dan Kroasia kepada Habsburg Transylvania serta menyerahkan Ukraina dan Podolia kepada Polandia.

Bahkan, Khilafah Utsmaniah terpaksa harus kehilangan wilayahnya di Eropa, setelah kekalahannya dengan Rusia dalam Perang Crimea pada abad ke-18 M, dan semakin tragis setelah dilakukannya Perjanjian San Stefano (1878). Pada tahun 1884 Rusia berhasil melepaskan Turkistan dan kemudian menduduki seluruh wilayah Kaukasus. Perancis pada tahun 1830 berhasil menduduki Aljazair. Kemudian di bawah pimpinan Napoleon, pada tahun 1896 Perancis berhasil menguasai Mesir. Pada tahun 1899 mereka menyerang daerah selatan Syam dan berhasil menduduki Gaza dan Ramalah. Italia pada tahun 1911 berhasil menduduki Tharablus, sebuah wilayah Palestina. Inggris pada tahun 1882 telah menguasai Mesir, dan pada tahun 1898 berhasil menduduki Sudan.

Imperialisme mulai merambah Mesir tatkala Inggris, melalui Napoleon Bonaparte, mulai pertama kali menjejaki tanah Mesir.

Kondisi Daulah Utsmaniyah yang lemah dengan cepat dimanfaatkan bangsa-bangsa Eropa yang disponsori Inggris untuk menguasai wilayah Daulah Utsmaniyah dan Mesir guna menjegal kekuatan Prancis dan Rusia. Untuk itu, Inggris dan Austria menjegal pasukan Ibrahim Pasha di Suriah. Mesir, di bawah komando Ibrahim Pasha, dipaksa untuk mematuhi perjanjian yang mereka buat. Pada tahun 1840, dalam sebuah konferensi di London, Inggris, digagas penyelesaian konflik Mesir-Turki yang dihadiri Rusia, Austria, Prusia dan Prancis. Bagi bangsa Eropa, khususnya Inggris dan Rusia, Perjanjian London ini adalah sebuah terobosan untuk melakukan intervensi lebih jauh dan membagi-bagi wilayah Daulah Utsmaniyah. Pada saat itulah, Tsar Nicholas I mengeluarkan pernyataan yang terkenal tentang The Sick Man of Europe. Ia menyarankan dalam pembicaraan dengan para diplomat dan negarawan Inggris agar Manusia Sakit itu dibagi dengan cara yang rapi sebelum menemui ajalnya.

Perang Dunia dan Munculnya “Negara-Negara Bangsa”

Pada tanggal 2 Agustus 1914. Perang Dunia I meletus. Daulah Utsmaniyah pada waktu itu dipimpin oleh Sultan Muhammad V yang telah berumur 70 tahun dan sakit-sakitan. Jabatan sultan saat itu hanyalah simbol kekuasaan, karena sebenarnya pemegang kekuasaan adalah tiga serangkai Enver Pasha, Talaat Pasha, dan Jamal Pasha. Pada PD I ini, Turki secara diam-diam bersekutu dengan Jerman. Di luar, Turki memperlihatkan sikap netral namun mereka mengizinkan dua kapal perang Jerman memasuki Selat Dardanela. Kerahasiaan itu ternyata tidak bertahan lama. Pada tanggal 29 Oktober 1914, dua kapal Jerman, Goeben dan Breslau, yang telah diganti namanya oleh Enver Pasha menjadi Sultan Salim dan Medilli menyerang kapal Rusia di Laut Hitam. Hal itu mengakibatkan Rusia menyatakan perang terhadap Turki. Sehari kemudian, Prancis dan Inggris menyatakan hal yang sama.

Keikutsertaan Daulah Utsmaniyah pada PD I semakin membuatnya itu terpuruk pada perpecahan dan teraneksasinya sejumlah besar wilayah kekuasaan mereka. Bangsa Arab dan Kurdi mulai menampakkan sikap permusuhan terhadap Daulah Utsmaniyah. Dua pimpinan Semenanjung Arab yang haus kekuasaan, Syarif Husain dari Hijaz dan Ibnu Saud dari Najd berhasil dihasut oleh Inggris. Pada tanggal 5 Juni 1916, Syarif Husain memproklamasikan Revolusi Arab untuk melawan pemerintah pusat, sementara Ibn Saud tidak mau berperang melawan Turki karena India tidak menghendaki. Suku-suku yang suka berperang dikerahkan menjadi tentara gurun guna mengusir Tentara Turki dari Arabia. Pasukan ini dipimpin oleh Emir Faisal, putra ketiga Syarif Husain, dan menjalin kerja sama dengan pasukan ekspedisi Inggris Jenderal Lord Allenby. Mereka dilatih oleh sejumlah perwira Inggris pimpinan Kolonel T.E. Lawrence, yang dalam sejarah bangsa Arab diberi gelar kehormatan Lawrence of Arabian. Perang Dunia I pun berakhir dengan nasib tragis bagi Khilafah Islamiyah pimpinan Khilafah Utsmaniyah tersebut.

Menyadari Daulah Utsmaniyah tengah sekarat, Rusia bersama Italia, Inggris, dan Prancis mempersiapkan perjanjian untuk membagi-bagi wilayahnya. 16 Mei 1916, Sir Mark Sykes dan Georges Picot sebagai perwakilan Rusia, Prancis, dan Inggris menandatangani perjanjian yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Sykes-Picot. Perjanjian itu berisi sebagai berikut:

1. Rusia memperoleh provinsi-provinsi Erzerum, Trebizond, Van, Bitlis. Rusia juga memperoleh bagian di timur Kurdistan; terbentang dari Mush, Sairt, Ibnu ‘Umar dan Amadiya sampai perbatasan Iran. Luasnya sekitar 60.000 mil persegi antara Laut Hitam dan Mosul Urumia yang kaya akan garam, perak dan tembaga.

2. Prancis memperoleh daerah pantai Suriah, Adana dan bagian selatan yang terbentang dari Aintab dan Mardin sampai perbatasan Rusia, dan di sebelah utara dari Ala Dagh, sampai Kaisariya, Ak-Dagh, Jildiz-Dagh, dan Jara hingga ke Egin-Kharput (Silisia).

3. Inggris memperoleh bagian selatan Mesopotamia, Baghdad, dan pelabuhan-pelabuhan Haifa serta Acre di Palestina.

4. Zona antara wilayah Prancis dan Inggris dijadikan konfederasi negara Arab atau satu negara Arab yang merdeka. Zona ini nantinya dibagi ke dalam daerah pengaruh Inggris dan Prancis. Pengaruh Prancis meliputi pedalaman Suriah dan Provinsi Mosul di Mesopotamia, sedangkan pengaruh Inggris mencakup wilayah antara Palestina dan perbatasan Iran.

5. Alexandretta dinyatakan sebagai pelabuhan bebas.

6. Palestina diinternasionalisasi.

Namun, Inggris tampaknya belum puas sebelum menghancurkan Khilafah Utsmaniah secara total. Perang Dunia I tahun 1914 M dimanfaatkan oleh Inggris untuk menyerang Istambul dan menduduki Gallipoli. Dari sinilah kampanye Dardanelles yang terkenal itu mulai dilancarkan. Pendudukan Inggris di kawasan ini juga dimanfaatkan untuk mendongkrak popularitas Mustafa Kemal Pasha, yang sengaja dimunculkan sebagai pahlawan dalam Perang Ana Forta, tahun 1915 M. Kemal Pasha, seorang agen Inggris, keturunan Yahudi Dunamah dari Salonika itu akhirnya menjalankan agenda Inggris, yakni melakukan revolusi kufur untuk menghancurkan Khilafah Islam. Pada tahun 1919 M, dia menyelenggarakan Konggres Nasional di Sivas, yang berhasil menelorkan Deklarasi Sivas. Deklarasi ini mencetuskan kemerdekaan Turki dan negeri-negeri Islam yang lain dari penjajah, sekaligus melepaskan negeri-negeri tersebut dari Khilafah Utsmaniah. Irak, Syria, Palestina, Mesir, dan lain-lain kemudian mendeklarasikan konsensus kebangsaan sehingga masing-masing menjadi negara merdeka. Pada saat itulah, sentimen kebangsaan semakin mengental, seiring dengan lahirnya Pan-Turkisme dan Pan-Arabisme; masing-masing menuntut kemerdekaan dan hak menentukan nasib sendiri atas nama bangsanya, bukan atas nama umat Islam.

PD I berakhir melahirkan beberapa perjanjian;

1. Treaty of Versailles, 28 Juni 1919, perjanjian ini antara sekutu dan Jerman mengenai penentuan pampasan perang yang harus dibayar oleh Jerman, penyerahan wilayah-wilayah Jerman dan koloni-koloninya.

Di dalam Perjanjian Versailles Inggris diberi mandat atas Palestina, Trans-Yordania, dan Irak.

2. Treaty of Sevres, 20 Agustus 1920, perjanjian antara Sekutu dan Kekhilafahan Turki Utsmaniyyah mengenai pengurangan wilayah Turki.

3. Treaty of Lausanne, 24 Juli 1923, perjanjian ini menggantikan perjanjian Sevres antara Turki dan Sekutu, setelah kekhilafahan diruntuhkan oleh kaum nasionalis yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha. Isinya mengenai pengembalian wilayah Turki dan hak-hak yang dimiliki oleh Turki untuk tidak mengurangi angkatan perang dan membayar kerugian perang serta penginternasionalisasian selat-selat Turki untuk semua kapal, selama bentuk negara Turki yang menjadi republik tidak kembali ke bentuk kekhilafahan.

Kalahnya Turki dalam PD I membuat situasi dalam negeri berubah. Tepatnya tanggal 3 Maret 1924 M, Musthafa Kamal “Ataturk” mengumumkan penghapusan Khilafah, sekaligus memproklamirkan berdirinya Republik Turki Sekuler, seraya melepaskan tanggung jawabnya terhadap negeri-negeri Islam yang telah diduduki orang-orang kafir pada Perang Dunia I.

Kemudian, Kerajaan Irak terbentuk tahun 1921 dibawah kekuasaan Inggris dan merdeka secara penuh tahun 1946. Dibawah kendali Inggris dan Prancis terbentuklah Kerajaan Trans-yordan dan merdeka tahun 1946. Dibawah kendali Prancis Libanon dipisahkan dari Syiria dan dimerdekakan 1 Januari 1944. Atas desakan dan rekayasa Inggris, antara 1914-1922 Mesir menjadi protektorat Inggris. Mesir mendapatkan kemerdekaan dari Inggris tahun 1922. Negara ini mengambil bentuk pemerintahan monarki konstitusional.

Pada tanggal 21 November 1949, melalui Sidang Umum PBB Libya merdeka tanggal 24 Desember 1951, Libya merupakan negara pertama di dunia yang merdeka di bawah desakan PBB. Libya memproklamasikan diri sebagai negara monarki konstitusional di bawah pimpinan Raja Idris.

Resolusi the All-India Muslim League dibawah pengaruh dari Inggris yang berkeinginan membentuk negara tersendiri di wilayah anak benua Asia yang mayoritas beragama Islam, melahirkan Republik Islam Pakistan pada tanggal terbentuk 14 Agustus 1947, dan kemudian tahun 1972 Pakistan Timur menjadi Bangladesh setelah Pakistan kalah perang melawan India.

Dominasi AS pun semakin kentara di Timur Tengah termasuk Mesir. Lewat krisis Suez yang muncul akibat masuknya pasukan Israel ke wilayah Mesir, AS pun mengambil peran sebagai mediator. Tentu saja dalam posisinya sebagai mediator , pengaruh AS di Timur Tengah akan semakin kuat. AS pun menggunakan organ kolonialnya, yakni PBB, untuk mengadakan sidang darurat dewan keamanan. Semua negara besar pada waktu itu, memanfaat krisis Suez ini untuk menamkan pengaruhnya di Mesir. AS dan Soviet , mengingatkan Inggris agar tidak membantu Mesir untuk melawan Israel. Sementara AS mengusulkan media perdamaian lewat PBB untuk menyelesaikan masalah ini. Hal ini tentu saja menguntungkan Israel, karena dengan demikian secara de fakto keberadaan Israel sebagai sebuah negara, dan sekaligus juga menguntungkan AS karena akan menggeser perang Inggris di Timur Tengah.

Perang DIngin

Dunia Islam; kancah pertarungan ideology Kapitalisme-Demokrasi melawan Sosialisme KOmunisme (Perang Afghanistan, Perang Irak-Iran)

Tahun 1948, berdirinya Negara Israel menjadikan kawasan Timur Tengah diterpa konflik berkepanjangan. Sekitar 100.000 penduduk Palestina mengungsi ke Lebanon dan hingga tahun 1975, pengungsi mencapai 300.000 orang. Tahun 1976 pecah perang sipil di Libanon antara kaum Kristen Maronite yang militant pimpinan Bachir Gemayel yang didukung oleh Prancis dengan pasukan koalisi PLO, Sunni dan Druze yang muslim. Perang semakin memburuk dengan dikirimnya pasukan dari Syiria sejumlah 40.000 untuk membantu pasukan koalisi. Anehnya ketika pasuka Kristen terdesak, pasukan Syiria ini justru berbalik melawan pasukan koalisi. Diduga Syiria berhasrat menguasai kembali Libanon, dan hal itu terbukti. 1978 PBB mengeluarkan Resolusi untuk membentuk UNIFIL (United Nations Interim Force in Libanon) untuk menjaga perdamaian di wilayah tersebut. Tahun 1982 tentara multinasional PBB pimpinan AS mendarat di Beirut dan memerintahkan dan mengevakuasi pasukan Syiria dan Palestina dari Libanon.

Tentara Syria memasuki Lebanon pada tahun 1976 sebagai tanggapan atas permintaan penguasa lebanon, setelah pecahnya perang antar faksi di Lebanon yang telah menelan korban puluhan ribu nyawa.

Perancis, selama perang dunia pertama, pada perjanjian Sykes-Picot, berencana untuk memberikan kemerdekaan bagi Lebanon setelah ekspansi mereka serta menjadikan Lebanon sebagai pusat orang-orang kristen di wilayah timur. Hal ini merupakan dasar permasalahan yang ada di lebanon, yaitu terpisahnya Lebanon dari wilayah aslinya, negeri Syam, dimana Lebanon merupakan bagian yang tak terpisahkan darinya, serta didirikannya Lebanon diatas faham sektarian, dengan menyerahkan kekuasaan pada orang kristen selama masa pemberian mandat. Ketika Perancis gagal pada perang dunia kedua, pengaruhnya di Lebanon melemah, dan posisinya digantikan oleh Inggris. Karena akar masalah—yang ditanamkan oleh Perancis—di Lebanon inilah, perang saudara terjadi pada tahun 1958. Lalu perang saudara lainnya berlangsung dari tahun 1975 sampai 1990. Perang yang panjang ini merupakan pertikaian antara Amerika dengan Perancis mengenai Lebanon.

Sedangkan pihak-pihak yang betikai di ‘lapangan’ tak lain hanyalah merupakan alat. Perang tersebut berakhir dengan hancurnya kekuatan Michelle ‘Awn dan pengasingan dirinya ke Perancis. Menteri Sulayman Faranjiyya berkata: “Pihak Perancis mencabut kepemimpinan ‘Awn pada pertikaian antara Perancis dan Amerika yang berlangsung di kawasan tersebut”. Akhir dari ‘Awn merupakan pertanda hancurnya pengaruh Perancis di Lebanon. Walaupun demikian, Perancis—yang didukung oleh sebagian negara Eropa—menemukan, pada penarikan mundur Israel dari lebanon Selatan, pada May 2000 dan pada pendekatan penyelesaian krisis Syiria pada saat itu, kesempatan baik untuk bekerja memperoleh kembali pengaruhnya di Lebanon. Oleh karena itu, Perancis memulai kampanye untuk meminta dan menempatkan kembali tentara Syria sebagai pelaksanaan kesepakatan antar faksi dan sebagai pendahuluan pada penarikan mundur terakhirnya dari Lebanon.

Dalam kunjungan terakhirnya ke Amerika, Patriarch Safeer berkata: “…Penarikan mundur pasukan Syiria tidaklah cukup, tetapi hendaknya di sana tidak ada lagi campur tangan (intervensi) terhadap kehidupan politik dan kemasyarakatan rakyat Lebanon.” Ia mengemukakan harapannya agar Amerika menolong Lebanon ‘untuk menyelamatkannya dari krisis sektarian.’ Hanya saja Amerika melihat keberadaan Syria dari sudut pandang yang berbeda. Edward Wokar, asisten menteri luar negeri menekankan bahwa hubungan antara penduduk Lebanon dan penduduk Syria merupakan suatu perkara yang hendaknya dibahas oleh kedua negara.

Sebagaimana Collin Powell, Menteri Luar Negeri Amerika, mengatakan dalam pernyataannya di depan kongres: “Kita berkeyakinan bahwa kepentingan semua pihak mengharuskan penarikan mundur pasukan Syiria dari Lebanon, pada akhirnya,pada waktu apapun,…akan tetapi hal ini tidak akan terjadi esok.” Demikian pula Presiden Amerika, George Bush, dan Menteri Luar negerinya, Powell, menolak untuk bertemu dengan Patriarch Safeer.

Dalam pernyataannya di hadapan delegasi dari Batroun, Safeer berkata: “…Patriarch Ilyas al-howayyik… berhasil dalam negosiasinya untuk meraih kemerdekaan penduduk Lebanon, dan kita akan mengikuti jejaknya”. Patriarch al-howayyik, ketika pergi ke Eropa dan menuntut kemerdekaan, ia tidak mewakili daerah kaum muslimin dari pantai, selatan, utara atau biqa’a. Bahkan sebaliknya, kaum muslim memberontak, menunjukkan kemarahan mereka serta mengadakan pertemuan-pertemuan dan konferensi-konferensi, menolak pemisahan mereka dari negeri Syam, yang merupakan tanah air mereka, terlebih dari sisi sejarah dan syariat. Dalam hal ini, Lebanon dikarenakan luas wilayahnya yang kecil, kepicikan dan komposisinya tidak mampu bertahan sebagai sebuah negara merdeka dalam hal hak-hak mereka sendiri, disebabkan Lebanon tidak dapat memenuhi persyaratan yang harus ada dari sebuah negara. Keluarnya Syria dari Lebanon akan mengakibatkan kembalinya otoritas Perancis atau selainnya ke Lebanon. Ini karena Lebanon yang menjadi kecil dan lemah tidak mampu menghadapi hal-hal yang berada di sekelilingnya dengan kekuatan sendiri. Ini merupakan ungkapan sejarah, yakni keadaan Lebanon terus-menerus berhadapan dengan kemalangan berupa pertikaian antar faksi yang berlangsung di kawasan tersebut. Maka pertikaian itu kembali membawa pengaruh pada penduduknya dalam bentuk pembunuhan, pembakaran, penghancuran, teror, dan penderitaan tanpa ada manfaatnya dan semua itu merupakan pelayanan terhadap faham kolonialis. Orang yang berakal adalah orang yang selalu belajar dari pengalamannya. Semua orang mengetahui bahwa sebagian dari kaum kristen di Lebanon selalu berupaya untuk memperkuat diri mereka dengan Perancis dan bahwa sebagian diantara mereka bekerjasama dengan negara Yahudi. Kami berharap bahwa mereka telah mendapatkan ‘pelajaran’ dari pencarian bantuan mereka terhadap negara Perancis dan kerjasama mereka dengan kaum Yahudi.

Afghanistan, 1979-92
AS mengucurkan dana milyaran dolar untuk membiayai perang menentang pemerintahan berkuasa yang didukung Uni Soviet. Sebelumnya, operasi CIA terus memancing intervensi Uni Soviet yang akhirnya memang dilakukan. AS akhirnya keluar sebagai pemenang, dan kaum perempuan seperti kebanyakan rakyat Afghanistan ada di pihak yang kalah. Lebih dari satu juta orang tewas, tiga juta cacat seumur hidup dan lima juta orang mengungsi, sama dengan separuh jumlah penduduknya.

Albania, 1949-53
AS dan Inggris gagal menggulingkan pemerintahan komunis dan menaikkan pemerintahan pro-Barat yang beranggotakan keluarga kerajaan dan kolaborator dengan kaum fasis Italia dan Nazi.

Iran, 1953
Perdana Menteri Mossadegh digulingkan dalam operasi gabungan AS dan Inggris. Mossadegh dipilih oleh mayoritas anggota parlemen, lalu memimpin gerakan untuk menasionalisasi perusahaan minyak milik Inggris, satu-satunya perusahaan minyak yang beroperasi di Iran waktu itu. Dengan kudeta itu, Shah Iran kembali dengan kekuasaan absolut dan memulai pemerintahan selama 25 tahun yang penuh penindasan dan teror. Sementara itu industri minyak diserahkan kembali kepada pemilik asing dengan komposisi Inggris dan Amerika masing-masing 40 persen, sementara negeri lainnya 20 persen.
 
Timur Tengah, 1956-58
Doktrin Eisenhower menyatakan bahwa AS, “siap menggunakan kekuatan bersenjatanya untuk membantu” negeri mana pun di Timur Tengah yang “meminta bantuan melawan agresi bersenjata dari negeri mana pun yang berada di bawah kontrol komunisme internasional.” Maksud sesungguhnya dari doktrin itu adalah bahwa tak satu pun kekuatan yang akan dibiarkan mendominasi, atau memiliki pengaruh besar di Timur Tengah dan ladang-ladang minyaknya, kecuali Amerika Serikat. Dan siapa pun yang mencobanya, dengan sendirinya adalah “Komunis”. Dengan garis kebijakan ini, AS dua kali berusaha menggulingkan pemerintah di Syria, menggelar show of force pasukan di Mediterania untuk menakut-nakuti gerakan yang menentang pemerintahan pro-AS di Jordania dan Lebanon dengan menempatkan 14.000 tentara di Lebanon. AS juga beberapa kali bersekongkol untuk menggulingkan atau membunuh Nasser di Mesir dan menghancurkan nasionalisme Timur Tengah yang dikembangkannya.
 
Indonesia, 1957-58
Sukarno, seperti Nasser, adalah pemimpin Dunia Ketiga yang tidak disukai oleh AS. Ia dengan tegas memilih netral dalam Perang Dingin dan beberapa kali berkunjung ke Uni Soviet dan Tiongkok. Ia memimpin nasionalisasi perusahaan swasta milik bekas penguasa kolonial Belanda dan menolak menindas Partai Komunis Indonesia yang saat itu memilih jalan legal dan damai, serta mendapat hasil-hasil mengesankan dalam pemilihan umum. Kebijakan semacam itu, di mata AS, akan menyebarkan “pikiran yang salah” bagi pemimpin Dunia Ketiga yang lain. CIA mulai mempengaruhi pemilihan umum dengan uang, merencanakan pembunuhan terhadap Soekarno, memerasnya dengan sebuah film porno yang palsu, dan bergabung dengan pasukan militer pembangkang untuk melancarkan perang terhadap pemerintah pusat. Namun Soekarno selamat dari semua upaya menghancurkan itu.
 
Indonesia, 1965
Setelah perebutan kuasa yang rumit dengan sidik jari AS di mana-mana, Soekarno berhasil digulingkan. Sebagai gantinya muncul Jenderal Soeharto. Pembantaian terjadi terhadap anggota PKI, orang yang dituduh PKI, simpatisan PKI maupun orang yang dituduh berhubungan dengan satu atau lain cara berhubungan dengan komunisme. Suratkabar New York Times menyebutnya, “salah satu pembantaian massal yang paling biadab dalam sejarah politik modern.” Antara setengah sampai satu juta orang diduga terbunuh. Baru kemudian diketahui bahwa kedutaan besar AS menyusun daftar lima ribu “orang Komunis”, dari pimpinan teras sampai kader desa, dan menyerahkannya kepada Angkatan Darat. Daftar itu kemudian dipakai untuk mengejar dan membunuh siapa pun yang tertera di sana. “Sungguh bantuan besar bagi Angkatan Darat. Mereka mungkin membunuh banyak orang, dan mungkin tangan saya juga berlumuran darah,” kata seorang diplomat AS. “Tapi tidak apa-apa. Ada kalanya kita harus bersikap keras pada saat yang menentukan.”
 
Timor Lorosae, 1975-1999
Indonesia menginvasi Timor Lorosae yang baru memproklamasikan kemerdekaannya dari Portugal. Invasi dilancarkan tepat sehari setelah Presiden AS Gerald Ford dan Menlu Henry Kissinger meninggalkan Indonesia. Mereka mengizinkan Soeharto menggunakan senjata buatan AS dalam invasi itu, padahal menurut undang-undang AS sendiri, senjata itu tidak boleh dipakai untuk menyerang. Namun Indonesia adalah alat Washington yang paling berharga di Asia Tenggara. Amnesty International memperkirakan pada 1989, pasukan Indonesia yang mencaplok Timor Lorosae dengan kekerasan, membunuh sekitar 200.000 dari 600.000 sampai 700.000 penduduk. AS dengan konsisten mendukung klaim Indonesia atas Timor Lorosae (tidak seperti PBB dan Uni Eropa), dan menganggap remeh pembantaian yang terjadi. Pada saat bersamaan AS terus menyediakan perlengkapan dan pelatihan bagi militer Indonesia untuk melancarkan tugas mereka.
 
Libya, 1981-89
Libya menolak menjadi antek Washington di Timur Tengah. Pemimpinnya, Muammar el-Qaddafi, terlalu angkuh di mata Washington dan karena itu harus dihukum. Pesawat AS menembak jatuh dua pesawat Libya yang terbang di atas wilayah mereka sendiri. AS juga menjatuhkan bom di negeri itu, yang menewaskan 40 orang, termasuk putri Qaddafi. Di samping itu ada berbagai upaya untuk membunuh pemimpin itu, operasi untuk menggulingkan kekuasaannya, dan kampanye disinformasi, sanksi ekonomi dan menuduh Libya berada di balik peledakan pesawat PanAm 103 tanpa bukti cukup.

Tahun 1991, AS membombardir Baghdad untuk memaksanya mundur dari Kuwait

Perang Melawan Terorisme

Runtuhnya USSR

Di antara propaganda mereka adalah senjata pemusnah massal yang dapat membahayakan dunia. Dengan alasan itu AS menginvasi Irak. Setelah Irak takluk, AS melakukan propaganda lanjutan dengan cara membayar dan menyogok koran-koran Irak melalui perusahaan Lincoln Group agar memberitakan bahwa pihaknya yang telah menjatuhkan kelompok-kelompok perlawan di Irak dan keberhasilan AS membangun kembali Irak. Lusinan artikel ditulis militer dan Departemen Pertahanan AS yang kemudian ”dipaksakan” dimuat di koran-koran Irak sebagaimana diungkap Los Angeles Time seperti dilansir Sydney Morning Herald Jumat (2/12/2005).

Dalam konteks perang ideologi dan memapankan kepentingan ekonomi politik AS ini pula, upaya untuk mengubah kurikulum pesantren yang didanai AS sebesar 157 juta dolar AS, menjadi hal yang patut diwaspadai. Karena perang ideologi tersebut telah secara jelas menempatkan para pejabat dan sebagian kelompok elite di Indonesia menjadi ”antek AS”, baik secara sukarela maupun karena ”terpaksa”.

Serangan Amerika Serikat ke Afghanistan terus berlangsung. Sudah 2000 bom dan misil disiramkan ke bumi muslim Afghanistan. Lima juta umat Islam di sana harus melewati malam dengan mata terbelalak, dihantui ketakutan akan ledakan bom. Rumah sakit, gudang Komite Palang Merah Internasional, desa-desa, pemukiman, gudang-gudang makanan, sekolah-sekolah, tempat ibadah, dan rumah-rumah penduduk luluh lantak dibombardir bom curah AS. Yang tersisa hanyalah puing-puing dan jerit tangis anak kecil. Banyak di antara mereka memungut makanan dari reruntuhan rumah-rumah mereka. Para pengungsi mengalir setiap hari menuju pinggiran perbatasan Pakistan, Iran, Uzbekistan dan Tajikistan. Perempuan, anak-anak, dan orang tua renta panik, lari tunggang-langgang, sekali-kali berjalan terseok-seok meninggalkan kampung halamannya, menghindari serbuan pasukan AS dan bom, atau terperangkap di pegunungan yang sebentar lagi membeku.

Pengeboman Aghanistan pada bulan Oktober 2001 menandakan permulaan peperangan besar ketiga dalam sedekad. Konflik yang pertama, iaitu Perang Teluk pada tahun 1991, meninggalkan 100,000 orang askar dan orang awam Iraq mati. Yang kedua, iaitu konflik Balkan pada tahun 1999, membawa peperangan yang melibatkan kuasa-kuasa besar ke benua Eropah bagi kali pertama sejak tahun 1945. Tetapi konflik terbaru ini adalah yang paling mengancam kerana kesan-kesannya memang global. Afghanistan merupakan negara miskin yang lebih kecil daripada negeri Texas dengan industri kecil-kecilan, angkatan tentera kecil dan tanpa kerajaan pusat. Tetapi, apabila ia menjadi tujuan perang salib imperialis, ia berdiri di pusat bulatan ketidak-stabilan yang menjadi semakin luas.

Tahun 2003, Irak kembali dibom AS dan jatuh ke tangan AS tanggal 9 April 2003

 
Sekitar 85 juta kilogram bom menghujani rakyat Irak dan menjadi serangan udara paling terpusat dalam sejarah dunia. Senjata uranium pun dijatuhkan, yang membakar manusia, menyebabkan kanker, dan meledakkan kilang minyak serta gudang senjata kimia dan biologi. Pencemaran udara akibat pemboman itu luar biasa, dan mungkin belum pernah terjadi di mana pun juga. Banyak serdadu yang sengaja dipendam hidup-hidup, infrastruktur hancur dengan akibat luar biasa bagi kesehatan. Sanksi ekonomi masih berlanjut yang membuat penderitaan semakin parah; mungkin sekitar satu juta anak meninggal karena serangan ini.
 
Irak sebelumnya adalah kekuatan militer terbesar di jazirah Arab. Dan bagi Washington ini adalah kejahatan. Noam Chomsky pernah menulis, “Telah menjadi doktrin dalam kebijakan luar negeri AS sejak 1940-an bahwa sumber energi yang tiada bandingannya di wilayah Teluk harus dikuasai oleh AS dan negara sekutunya. Tidak satu pun kekuatan setempat yang independen akan dibiarkan tumbuh dan berpengaruh dalam penanganan
produksi serta penetapan harga minyak.”

AS mengulangi sejarah ketika mengabaikan Liga Bangsa-Bangsa yang memicu Perang DUnia II dan mengabaikan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menghukum Saddam Hussein atas tuduhan yang tidak terbukti.

AS sampai menempatkan mantan Deputi Menteri Keuangannya Peter Mc Pherson untuk mengelola Bank Sentral Irak.

“Amerika harus menghalangi negara lain yang ingin menyaingi kepemimpinan kita atau ingin mengubah tatanan politik dan ekonomi sekarang ini… Kita harus memelihara mekanisme untuk menghambat para pesaing, sekalipun mereka hanya ingin berperan lebih besar secara regional maupun global.” Demikian pernyataan dalam Pedoman Perencanaan Pertahanan yang dikeluarkan Pentagon untuk 1994-99.
 
Sejarah memang membuktikannya. Menurut John Stockwell, mantan pejabat CIA yang kemudian menulis buku tentang pengalamannya, dinas intelijen itu melancarkan sekitar 3.000 operasi rahasia besar dan 10.000 operasi kecil, yang dirancang untuk “merusak, menciptakan destabilisasi di negeri lain dan memaksa pemerintahnya untuk mengikuti kehendak Amerika Serikat”.
 
Setelah Perang Dunia II, pasukan dan dinas intelijen Amerika Serikat berpetualang di lebih dari 70 negara di dunia.
 

Konsep berikutnya berkenaan dengan mekanisme psikologis yang membuat manusia lebih mudah melakukan agresi atau saling membunuh satu sama lain. Konsep ini adalah proses demonisasi atau dehumanisasi (Julius dalam Volkan 1990). Demonisasi adalah mekanisme untuk memproyeksikan citra negatif kepada musuh, terutama para pemimpinnya, untuk membuatnya seperti demon (setan). Contoh dari demonisasi adalah selama Perang Teluk 1991 pemerintah AS dan media memproyeksikan Saddam Husain sebagai Hitler, demon paling masyhur pada abad 20. Dengan menjadikan Saddam seperti Hitler, maka lebih mudah bagi pemerintah untuk memanipulasi pendapat umum (opini publik) terhadap Irak, jadi menciptakan lingkungan yang lebih menunjang untuk melancarkan perang terhadap orang yang dianggap musuh itu. Memberi label “teroris” terhadap seseorang adalah salah satu cara demonisasi.

Kesimpulan

Dalam konteks ini, dapat dipahami mengapa pada bulan Ramadhan AS terus menggandakan serbuannya, tanpa mempedulikan seruan negeri-negeri Islam. Begitu pula, kini dapat dipahami apa maksud pernyataan Perang Salib (crusade) yang diungkapkan Bush dan nama operasi serangan AS ke Afghanistan Infinite Justice (keadilan tanpa batas) yang kemudian diganti menjadi Enduring Freedom (kebebasan tanpa akhir). Tampak jelas bahwa kekuatan senjata yang mereka kerahkan merupakan jalan terakhir AS untuk menguasai umat Islam. Artinya, pernyataan memerangi terorisme hanyalah dalih untuk menutupi benturan peradaban Islam versus Barat. Presiden AS, George W. Bush sendiri yang menyatakannya kepada para pemimpin Eropa, “Mereka kini tengah mencari senjata kimia, biologi, dan nuklir. Ini artinya, musuh kami akan menjadi ancaman bagi negara manapun, dan terutama untuk peradaban itu sendiri.

REFERENSI

· J.A. Rickard and Albert Hyma, Ancient, Medieval and Modern History, Barnes and Noble Inc, New York, 1960

· Walter S. Jones, Logika Hubungan Internasional Persepsi Nasional (terjemahan), Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1992

· Hans J. Morgenthau, Politik Antar Bangsa Perjuangan Untuk Kekuasaan dan Perdamaian (terjemahan), Bina Cipta, Bandung, 1990

(lihat George Lenczowski, Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia, terjemahan dari The Middle East in World Affairs, hlm324)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s